Ibas Ajak Organisasi Mahasiswa Jaga Kebangsaan dan Perkuat Budaya Kritik

Ibas Ajak Organisasi Mahasiswa Jaga Kebangsaan dan Perkuat Budaya Kritik

Jakarta, 25 Mei 2026 – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak organisasi mahasiswa lintas agama dan ideologi untuk menjaga persatuan sekaligus tetap kritis terhadap berbagai persoalan bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Ibas saat memberikan sambutan dalam kegiatan “Diskusi Kebangsaan Lintas Organisasi Mahasiswa” bertema “Merajut Kebangsaan, Menguatkan Indonesia: Pergerakan, Harmoni, dan Pengabdian untuk Negeri” di Gedung MPR RI, Jakarta, Minggu (25/5/2026).

Kegiatan tersebut diikuti perwakilan sejumlah organisasi mahasiswa, antara lain HMI, GMNI, IMM, KMHDI, HIKMAHBUDHI, PMKRI, KAMMI, GMKI, dan PMII.

Turut hadir Sekretaris Fraksi Partai Demokrat MPR RI sekaligus Wakil Ketua Komisi I DPR RI Anton Sukartono Suratto, Kapoksi Komisi X DPR RI Sabam Sinaga, serta Anggota Komisi X DPR RI Bramantyo Suwondo.

Dalam sambutannya, Ibas mengatakan keberagaman organisasi dan latar belakang mahasiswa seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat dialog, bukan menjadi sumber perpecahan.

“Indonesia tidak boleh ikut terpecah oleh perbedaan. Kita harus menjadi bangsa yang kuat bukan karena seragam, tetapi karena mampu merawat keberagaman,” ujar Ibas.

Ia menyebut sejumlah tantangan yang dihadapi Indonesia dan masyarakat global, mulai dari perkembangan geopolitik, persoalan ekonomi, ketahanan pangan dan energi, hingga penyebaran informasi yang dapat memicu polarisasi sosial.

Menurut Ibas, mahasiswa memiliki peran untuk menyikapi persoalan tersebut melalui gagasan, kritik, dan keterlibatan di masyarakat.

Ibas Dorong Kritik yang Disertai Solusi

Ibas mengatakan organisasi mahasiswa memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Indonesia. Ia menyinggung sejumlah momentum yang melibatkan gerakan pemuda dan mahasiswa, mulai dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga Reformasi 1998.

Ia mengingatkan agar sikap kritis mahasiswa tetap disertai dengan pertimbangan dan tawaran solusi.

“Kritis boleh, tetapi harus solutif. Berani harus, tetapi tetap bijaksana. Idealis wajib, tetapi juga realistis,” tegas Ibas.

Ia juga mengajak organisasi mahasiswa memperkuat literasi digital dan membuka ruang dialog dengan kelompok yang memiliki latar belakang berbeda.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya memiliki peran untuk mengkritisi kebijakan, tetapi juga dapat terlibat dalam kegiatan sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

“Jika baik kita dukung, jika kurang kita kritisi dengan solusi, dan jika salah kita perbaiki bersama,” katanya.

Mahasiswa Sampaikan Aspirasi Pendidikan dan Demokrasi

Dalam diskusi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah gagasan terkait pendidikan, demokrasi, pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat.

Susana dari PMKRI menyoroti pentingnya pemerataan akses pendidikan dan kesempatan pengembangan kapasitas bagi mahasiswa dari berbagai daerah. Ia berharap kebijakan pemerintah dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda sekaligus memperhatikan kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Sementara itu, Riyan yang mewakili IMM menekankan pentingnya menjaga ruang kebebasan berpendapat dan budaya kritik dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk ikut mengawasi kebijakan pemerintah dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan sosial dan kemanusiaan.

Para peserta juga menyampaikan pandangan mengenai arah pembangunan nasional. Mereka mendorong pemerintah memperkuat sektor pendidikan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat serta mengevaluasi kebijakan yang dinilai kurang efektif.

Sejumlah Anggota DPR Soroti Peran Mahasiswa

Anton Sukartono Suratto dalam kesempatan tersebut menyoroti pemerataan pembangunan di berbagai wilayah, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan fasilitas publik.

Menurutnya, aspirasi masyarakat perlu terus disampaikan melalui jalur politik dan kelembagaan agar dapat menjadi bahan pembahasan dalam penyusunan kebijakan.

Sabam Sinaga dan Bramantyo Suwondo juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam menyampaikan gagasan dan kritik dalam forum tersebut. Mereka menilai dialog antara mahasiswa dan wakil rakyat dapat menjadi salah satu ruang untuk membahas persoalan pembangunan dari perspektif generasi muda.

Dalam kegiatan itu, Ibas juga menyerahkan puluhan beasiswa kepada mahasiswa yang membutuhkan. Bantuan tersebut diberikan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa penerima.

Menutup sambutannya, Ibas mengajak organisasi mahasiswa mempertahankan ruang dialog lintas identitas dan menggunakan perbedaan sebagai bagian dari proses membangun kehidupan kebangsaan.

“Mari kita jadikan mahasiswa sebagai penjaga masa depan bangsa,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Bekali 384 Peserta P3MD, Menko AHY Ajak Calon Pemimpin BUMN Kawal Pembangunan Nasional

Bekali 384 Peserta P3MD, Menko AHY Ajak Calon Pemimpin BUMN Kawal Pembangunan Nasional

Dari Pengalaman hingga Pengabdian, Menko AHY Bicara Masa Depan Infrastruktur Indonesia

Dari Pengalaman hingga Pengabdian, Menko AHY Bicara Masa Depan Infrastruktur Indonesia

Mentrans Iftitah: Revisi UU Transmigrasi Harus Jadikan Lahan Lebih Produktif, Rakyat Lebih Sejahtera

Mentrans Iftitah: Revisi UU Transmigrasi Harus Jadikan Lahan Lebih Produktif, Rakyat Lebih Sejahtera

Tinjau Infrastruktur Air Baku di Balikpapan, Menko AHY: Tidak Boleh Ada Masyarakat Kesulitan Air Bersih

Tinjau Infrastruktur Air Baku di Balikpapan, Menko AHY: Tidak Boleh Ada Masyarakat Kesulitan Air Bersih

Menko AHY di Dies Natalis ke-12 ITK: Kampus Mitra Strategis Pengembangan SDM Unggul dan Infrastruktur Kalimantan

Menko AHY di Dies Natalis ke-12 ITK: Kampus Mitra Strategis Pengembangan SDM Unggul dan Infrastruktur Kalimantan

Dari Kampus hingga Air Baku, Menko AHY Kunjungi Balikpapan untuk Dorong Pembangunan yang Menyentuh Kebutuhan Masyarakat

Dari Kampus hingga Air Baku, Menko AHY Kunjungi Balikpapan untuk Dorong Pembangunan yang Menyentuh Kebutuhan Masyarakat