Kunjungi BAIC di Beijing, Menteri Transmigrasi Pelajari Pengembangan Industri Tiongkok

Kunjungi BAIC di Beijing, Menteri Transmigrasi Pelajari Pengembangan Industri Tiongkok

Beijing – Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mempelajari proses pengembangan industri otomotif Tiongkok saat mengunjungi Beijing Automotive Group (BAIC Group) di Beijing, Selasa (13/10/2026). Kunjungan tersebut membahas pengembangan sumber daya manusia, penguasaan teknologi, riset, investasi, dan kerja sama industri.

Iftitah mengatakan, pengalaman BAIC dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia dalam membangun kapasitas industri nasional. Menurutnya, daya saing perusahaan tidak hanya ditentukan oleh produk yang dihasilkan, tetapi juga oleh proses pengembangan kemampuan produksi dan teknologi dalam jangka panjang.

“Saya tertarik bukan pada produknya, melainkan pada prosesnya,” ujar Iftitah.

Ia menilai pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam membangun industri yang berkelanjutan. Ketersediaan mesin, fasilitas produksi, dan modal perlu didukung oleh tenaga kerja terampil, insinyur, peneliti, serta pengelola industri yang kompeten.

Karena itu, pembangunan kawasan industri di Indonesia perlu disertai pendidikan, pelatihan, penelitian, dan penyiapan tenaga kerja sesuai kebutuhan sektor usaha.

Kerja Sama Internasional untuk Mengembangkan Teknologi

Iftitah juga menyoroti kerja sama BAIC dengan perusahaan otomotif internasional, termasuk Hyundai dari Korea Selatan dan Mercedes-Benz dari Jerman. Kemitraan tersebut menjadi bagian dari pengembangan kemampuan perusahaan di bidang produksi, teknologi, manajemen, dan jaringan industri.

Menurutnya, Indonesia dapat memanfaatkan kerja sama internasional untuk mempercepat penguasaan teknologi dan meningkatkan kemampuan industri dalam negeri. Dengan bermitra bersama perusahaan yang memiliki pengalaman, proses pembelajaran dapat berlangsung tanpa harus membangun seluruh kemampuan dari tahap awal.

“Tidak ada sesuatu yang bisa dibuat dalam semalam. Mereka membutuhkan puluhan tahun, tetapi pada titik tertentu akan terjadi akselerasi,” katanya.

Ia menambahkan, pembangunan industri membutuhkan investasi jangka panjang, konsistensi kebijakan, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemampuan industri yang terbentuk saat ini merupakan hasil dari proses yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Pengembangan Ekosistem Industri di Kawasan Transmigrasi

Selain kapasitas produksi, Iftitah memperhatikan pentingnya ekosistem industri yang melibatkan pemasok komponen, perusahaan pendukung, lembaga penelitian, tenaga ahli, logistik, dan pasar.

Menurutnya, keberadaan ekosistem tersebut memungkinkan manfaat kegiatan industri meluas ke berbagai sektor usaha, tidak hanya perusahaan utama.

“Kalau kita berinvestasi dalam riset dan ekosistemnya terbentuk, pihak lain tidak perlu mulai dari nol,” ujarnya.

Pengalaman tersebut dinilai relevan dengan upaya Kementerian Transmigrasi mengembangkan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa.

Dalam pengembangannya, kawasan transmigrasi membutuhkan dukungan infrastruktur, teknologi, industri pengolahan, tenaga kerja terampil, serta jaringan usaha. Pengembangan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, membuka lapangan kerja, dan memperluas kesempatan usaha bagi masyarakat.

Potensi yang dapat dikembangkan mencakup pengolahan hasil pertanian dan perkebunan hingga kegiatan manufaktur sesuai karakteristik dan kesiapan masing-masing wilayah.

Pasar Domestik sebagai Peluang Industrialisasi

Iftitah turut menyoroti pasar domestik Indonesia sebagai salah satu faktor yang dapat mendukung pengembangan industri nasional. Selain sumber daya alam, kebutuhan masyarakat terhadap berbagai produk dapat menjadi dasar pengembangan kapasitas produksi dalam negeri.

Sektor otomotif, termasuk kendaraan listrik, menjadi salah satu bidang yang menurutnya dapat dipelajari melalui penguasaan teknologi, kemitraan internasional, dan pembangunan rantai pasok.

“Kebutuhan kendaraan juga tinggi, dan mungkin ke depan kendaraan listrik akan menjadi yang utama. Mengapa Indonesia tidak membangun industri serupa dengan terlebih dahulu mempelajari prosesnya di Tiongkok?” katanya.

Ia menegaskan, pengalaman negara lain perlu dipelajari dengan mempertimbangkan kondisi Indonesia. Setiap wilayah memiliki potensi sumber daya, kebutuhan pasar, kesiapan infrastruktur, dan kapasitas masyarakat yang berbeda sehingga pendekatan pengembangan industrinya perlu disesuaikan.

Dalam konteks transmigrasi, pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan industri daerah, keterampilan masyarakat, pengembangan usaha lokal, serta penciptaan lapangan kerja dan sumber pendapatan.

Kunjungan ke BAIC merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Kementerian Transmigrasi ke Tiongkok pada 12–18 Oktober 2026 untuk mempelajari pengembangan industri, teknologi, dan ekonomi wilayah.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi diterima oleh sejumlah perwakilan BAIC Group, yakni Peng Jin, Director of Strategic Customer Division; Jiang Dong, Deputy Director of International Business Office; Sun Zhiyong, Vice President BAIC International; serta Li Jiayi, Country Manager Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ossy Dermawan Bahas Pembagian Kewenangan ATR/BPN dan BRAN

Ossy Dermawan Bahas Pembagian Kewenangan ATR/BPN dan BRAN

Indonesia-Tiongkok Jajaki Pusat Riset Padi Bersama di Merauke

Indonesia-Tiongkok Jajaki Pusat Riset Padi Bersama di Merauke

Bertemu Mahasiswa Indonesia di Beijing, Menteri Iftitah Dorong Penerapan Ilmu Pengetahuan untuk Pembangunan

Bertemu Mahasiswa Indonesia di Beijing, Menteri Iftitah Dorong Penerapan Ilmu Pengetahuan untuk Pembangunan

Akademisi Peking University Soroti SDM dan Kesejahteraan dalam Transformasi Transmigrasi

Akademisi Peking University Soroti SDM dan Kesejahteraan dalam Transformasi Transmigrasi

Menteri Transmigrasi Jajaki Kerja Sama Empat Perusahaan Tiongkok untuk Hilirisasi Komoditas

Menteri Transmigrasi Jajaki Kerja Sama Empat Perusahaan Tiongkok untuk Hilirisasi Komoditas

Bekali 384 Peserta P3MD, Menko AHY Ajak Calon Pemimpin BUMN Kawal Pembangunan Nasional

Bekali 384 Peserta P3MD, Menko AHY Ajak Calon Pemimpin BUMN Kawal Pembangunan Nasional