JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak generasi muda untuk tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Menurutnya, prestasi, kreativitas, dan berbagai platform yang dimiliki anak muda dapat dimanfaatkan untuk memberi manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Ibas dalam audiensi kebangsaan bersama generasi muda bertema “Generasi Muda Merawat Kebhinekaan, Mengembangkan Ekonomi Kreatif, dan Memajukan Pariwisata Indonesia” di Rumah Kebangsaan MPR RI, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Pertemuan tersebut diikuti generasi muda dari sejumlah daerah, antara lain Mojang Jajaka Jawa Barat, Kang Nong Banten, Abang None Jakarta, serta para duta pemuda dan olahraga.
Ibas mengatakan generasi muda menghadapi perubahan yang berlangsung cepat, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), transformasi digital, perubahan iklim, kondisi ekonomi global, hingga perubahan dunia kerja.
“Jangan kita menjadi penonton. Kalian harus menjadi pembuat, bukan hanya sekadar konsumen. Kalian juga bisa menjadi kreator, bukan hanya follower, tetapi juga leader — to lead the way,” ujar Ibas.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah generasi muda dan keberagaman budaya. Kedua hal tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi melalui karya, inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan berbagai potensi daerah.
“Kebhinekaan adalah sebuah identitas, kreativitas adalah sebuah kekuatan, dan pariwisata adalah jendela Indonesia menuju dunia,” kata Ibas.
Ibas secara khusus meminta para Mojang Jajaka, Kang Nong, dan Abang None agar tidak menjadikan gelar dan penghargaan sebagai tujuan akhir.
Ia menilai mahkota, selempang, maupun gelar juara dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya, mempromosikan pariwisata, mengembangkan UMKM, serta memperluas ekonomi kreatif.
“Jangan cuma berhenti dari urusan mahkota. Coba kalian lanjutkan bagaimana gelar juara dan selempang yang kalian miliki hari ini menjadi platform untuk memajukan Indonesia, budaya, UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Ibas kemudian menyampaikan gagasan yang menurutnya dapat menjadi semangat bagi generasi muda, yakni mengubah budaya menjadi karya, karya menjadi aktivitas ekonomi, dan aktivitas ekonomi menjadi kesejahteraan.
Ia mendorong anak muda menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi dan membuka peluang bagi masyarakat di sekitarnya.
Dalam audiensi tersebut, Ibas juga menawarkan sejumlah gagasan yang dapat dikembangkan bersama komunitas generasi muda.
Salah satunya adalah gerakan “Satu Anak Muda, 1.000 Karya”. Ia mengatakan generasi muda tidak harus menunggu memiliki sumber daya besar untuk mulai menghasilkan karya.
Teknologi digital, menurut Ibas, dapat dimanfaatkan untuk membuat konten, produk, inovasi, maupun karya lain yang memberikan manfaat lebih luas.
“Satu anak muda, seribu karya. Jangan hanya berkarya untuk satu orang, tetapi buat sesuatu yang bisa memberikan manfaat kepada seribu orang atau lebih,” kata Ibas.
Ia juga menyampaikan gagasan “Satu Daerah, 1.000 Cerita Unggulan” untuk mengangkat budaya, sejarah, kuliner, destinasi wisata, dan berbagai cerita lokal sebagai bagian dari promosi Indonesia.
Selain itu, Ibas mendorong terbentuknya “Satu Ekosistem, 1.000 Manfaat” dengan mempertemukan generasi muda, pemerintah, parlemen, dunia usaha, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kalau kalian punya teman dan saudara di pemerintahan, parlemen, dunia usaha, maupun komunitas, ayo kita berkolaborasi. Inilah cara kita mewujudkan tujuan besar secara bersama-sama,” ujarnya.
Ibas menilai keberagaman Indonesia tidak cukup hanya dipahami sebagai perbedaan identitas. Menurutnya, kebhinekaan juga harus menjadi dasar untuk membangun kerja sama.
Ia mengingatkan generasi muda agar perbedaan suku, budaya, bahasa, daerah asal, pilihan politik, maupun pandangan tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
“Kita boleh berbeda suku, pilihan politik, pikiran, dan gagasan. Tetapi kita jangan sampai bermusuhan. Negara ini tidak akan pernah bisa besar kalau kita memimpin secara parsial, apalagi sendiri-sendiri,” katanya.
Menurut Ibas, perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi. Namun, setelah proses pengambilan keputusan dilakukan, semua pihak tetap perlu membangun kerja sama.
Ia mengutip prinsip, “If you want to be fast, go alone. But if you want to go far, go together.”
“Intinya kita penting untuk berkolaborasi. Dari Jawa Barat, Banten, DKI, Jawa Timur, dan seterusnya. Termasuk kami di parlemen juga berkolaborasi,” ujar Ibas.
Ibas juga menyoroti perkembangan AI, media sosial, algoritma, dan derasnya arus informasi yang kini menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.
Menurut dia, perkembangan teknologi memberikan peluang sekaligus tantangan. Karena itu, kemampuan literasi, berpikir kritis, karakter, dan adab perlu diperkuat agar teknologi dapat digunakan secara produktif.
“Mari kita perkuat ilmu, mari kita perkuat karakter, mari kita perkuat adab kita,” tegasnya.
Ia menilai sistem pendidikan juga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Dalam dialog tersebut, Ibas juga menyampaikan lima bidang yang dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi, yakni Indonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Hijau, Indonesia Kreatif, dan Indonesia Peduli.
Indonesia Pintar dapat dikembangkan melalui kegiatan literasi dan edukasi bagi anak-anak di berbagai daerah.
Sementara Indonesia Sehat dapat diwujudkan melalui kampanye hidup sehat, olahraga, pencegahan narkoba, serta perhatian terhadap persoalan gizi dan kesehatan anak.
Untuk Indonesia Hijau, Ibas mendorong gerakan menjaga lingkungan, pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru, serta pengelolaan alam secara berkelanjutan.
“Ini bukan hanya tentang menanam pohon. Tetapi bagaimana kita merawat dan menjaganya serta memberikan aksi secara berkelanjutan,” ujar Ibas.
Pada sektor Indonesia Kreatif, ia mendorong anak muda mengembangkan musik, seni, kuliner, wastra, dan berbagai subsektor ekonomi kreatif untuk menciptakan lapangan pekerjaan serta meningkatkan perekonomian masyarakat.
Sedangkan Indonesia Peduli diarahkan pada penguatan solidaritas, gotong royong, empati, dan kepedulian sosial.
Sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat yang hadir dalam audiensi juga menyampaikan gagasan terkait kolaborasi dengan generasi muda.
Dede Yusuf menilai para duta daerah perlu mengambil peran lebih luas, termasuk dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan. Ia juga menyampaikan rencana komunikasi dengan Menteri Dalam Negeri terkait kemungkinan adanya regulasi yang dapat memperkuat dukungan pemerintah daerah terhadap para duta dan alumninya.
Sabam Sinaga menyoroti pentingnya perhatian terhadap bidang kepemudaan yang tidak terbatas pada olahraga. Ia membuka peluang kolaborasi melalui program seperti Youth Camp serta mendorong komunitas untuk memanfaatkan akses pendanaan kebudayaan dan menghubungkan program mereka dengan pemerintah.
Sementara itu, Dina Lorenza mengajak generasi muda memanfaatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk mengembangkan potensi daerah. Media digital, menurutnya, dapat digunakan untuk memperkenalkan desa wisata dan berbagai potensi daerah dengan tetap memperhatikan keamanan, kebersihan, dan keberlanjutan.
Dalam sesi tanggapan, Ibas menekankan pentingnya mendengarkan aspirasi generasi muda. Ia mengutip ungkapan “To lead is to listen” yang menurutnya menggambarkan bahwa kepemimpinan juga membutuhkan kemampuan untuk mendengar dan memahami persoalan masyarakat.
“Tidak banyak kesempatan di mana generasi muda dapat secara terbuka dan lugas menyampaikan pandangan dalam forum seperti ini. Apa yang kita dengarkan hari ini dapat memperkaya tentang apa yang kalian rasakan dan pikirkan,” ujar Ibas.
Ia mengakui tidak semua persoalan yang disampaikan generasi muda dapat langsung diselesaikan. Namun, aspirasi tersebut tetap penting sebagai bagian dari proses demokrasi dan bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.
Salah satu peserta, Rizka Sakina, Mojang Jawa Barat yang mewakili Kota Depok, mengapresiasi kesempatan menyampaikan aspirasi secara langsung. Ia berharap pertemuan tersebut dapat menjadi awal kolaborasi antara para duta daerah dan Fraksi Partai Demokrat, terutama dalam upaya melestarikan budaya Nusantara.
Ibas kemudian mengajak generasi muda tidak hanya mengidentifikasi persoalan, tetapi ikut mencari dan menjalankan solusi.
“Kami berharap solusi itu tumbuh dari teman-teman semuanya. Kalau hari ini kalian menjadi bagian dari masalah, sudah banyak yang akan berperan seperti itu. Tetapi kalau kalian menjadi bagian dari problem solver, itulah yang terbaik,” katanya.
Ia berharap audiensi tersebut tidak berhenti pada pertemuan, tetapi dilanjutkan dengan kegiatan nyata melalui komunitas dan jejaring lintas daerah.
“Jangan pernah berhenti untuk belajar. Jangan pernah berhenti untuk berinovasi. Buka lapangan pekerjaan, angkat budaya, dan jaga lingkungan,” pesan Ibas.
Menutup audiensi, Ibas berharap generasi muda terus meningkatkan kapasitas dan menghasilkan karya sehingga dapat mengambil bagian dalam kepemimpinan nasional pada masa mendatang.
“Masa depan yang baik bukan masa depan yang kita tunggu, tetapi masa depan yang bisa kita ciptakan sendiri, dari tangan-tangan dan keringat kita sendiri,” pungkasnya.
Audiensi tersebut turut dihadiri sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI, di antaranya Marwan Cik Asan, Rizki Natakusumah, Hillary Brigita Lasut, Dina Lorenza, Dede Yusuf, Sabam Sinaga, dan Anita Jacoba Gah.