SEOUL, 24 APRIL 2026 – Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), melakukan kunjungan ke kantor pusat Global Green Growth Institute (GGGI) di Seoul, Korea Selatan, Jumat (24/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Ibas didampingi sejumlah anggota MPR RI dan DPR RI. Pertemuan membahas isu perubahan iklim, pertumbuhan ekonomi hijau, transisi energi, pembiayaan berkelanjutan, serta kerja sama Indonesia dan GGGI.
Ibas menyampaikan apresiasi atas peran GGGI dalam mendukung negara-negara anggotanya mengembangkan kebijakan pembangunan yang mempertimbangkan aspek ekonomi dan lingkungan.
Kunjungan ke kantor pusat GGGI juga memiliki kaitan dengan hubungan organisasi tersebut dengan Indonesia. Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pernah menjabat sebagai Chair GGGI.
“Terima kasih, saya merasa seperti di rumah, seperti bertemu dengan Ayah saya (Pak SBY), yang dulu memimpin GGGI,” ujar Ibas.
Dalam pertemuan tersebut, Ibas mengatakan penanganan perubahan iklim tidak hanya membutuhkan kegiatan penghijauan, tetapi juga kebijakan dan regulasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, kebijakan lingkungan perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Ibas juga menyoroti dampak perubahan iklim yang dirasakan berbagai negara, termasuk Indonesia dan Korea Selatan. Ia menyebut bencana alam dan perubahan pola cuaca sebagai persoalan yang membutuhkan respons bersama.
Ia kemudian mengaitkan isu perubahan iklim dengan agenda pembangunan Indonesia. Menurut Ibas, kebijakan pembangunan perlu mempertimbangkan empat aspek, yaitu pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan perlindungan lingkungan.
Ibas juga menyampaikan sejumlah kebijakan yang sedang dikembangkan Indonesia, termasuk perdagangan karbon, pengembangan energi terbarukan, serta investasi pada infrastruktur hijau.
Ia mendorong keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan proyek yang berkaitan dengan ekonomi hijau dan energi bersih.
Selain kebijakan lingkungan, Ibas menyoroti kebutuhan mempercepat pengembangan energi bersih. Menurutnya, perkembangan kendaraan listrik dan perubahan kondisi pasar energi menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam agenda transisi energi.
Ia juga menyampaikan pentingnya kerja sama internasional dalam pengembangan teknologi dan pembiayaan energi bersih.
“Waktunya bertindak adalah sekarang,” kata Ibas.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengutip ungkapan mengenai waktu terbaik untuk menanam pohon sebagai pesan mengenai pentingnya memulai tindakan untuk menghadapi perubahan iklim.
Ibas turut menyampaikan pentingnya program pengelolaan sampah, termasuk waste-to-energy, sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus menghasilkan energi.
Executive Director GGGI Sanghyup Kim menyampaikan bahwa pertumbuhan hijau tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan industri dan lapangan kerja.
Sementara itu, Deputy Executive Director and Asia Regional Director GGGI, Malle Fofana, menjelaskan peran GGGI dalam mendukung negara anggota, termasuk Indonesia, melalui kebijakan pertumbuhan hijau dan kerja sama dengan sektor swasta.
Dalam pertemuan tersebut, GGGI menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki program kerja sama cukup besar dengan organisasi tersebut.
Director Partnerships and Governance GGGI Hakseok Ryu mengatakan program GGGI di Indonesia telah mencakup sejumlah wilayah dan sektor, antara lain energi terbarukan, pengembangan kota hijau, rehabilitasi pesisir dan mangrove, pembiayaan iklim, serta investasi berkelanjutan.
Sementara itu, Country Representative GGGI untuk Indonesia, Rowan Fraser, memaparkan empat bidang utama kerja sama GGGI di Indonesia.
Bidang tersebut mencakup energi, termasuk energi terbarukan, efisiensi energi, hidrogen, dan bioenergi; pengembangan kota dan industri hijau; pengelolaan darat dan laut, termasuk rehabilitasi mangrove dan ekonomi pesisir; serta pembiayaan dan investasi hijau.
GGGI juga menyampaikan target mobilisasi pendanaan sebesar US$2 miliar dalam beberapa tahun mendatang untuk mendukung agenda transisi hijau di Indonesia melalui kerja sama dengan pemerintah dan sektor swasta.
Ibas juga menyoroti peran generasi muda dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, generasi muda perlu memperoleh pendidikan dan pemahaman mengenai perubahan iklim, teknologi energi bersih, serta tantangan lingkungan.
Ia menilai generasi muda tidak hanya menjadi kelompok yang akan menerima dampak perubahan iklim, tetapi juga memiliki peran dalam mencari solusi melalui inovasi dan teknologi.
“Penting untuk mempersiapkan generasi muda dengan pemahaman dan pendidikan yang tepat mengenai masa depan dunia. Mereka bukan hanya penerus, tetapi juga bagian dari solusi,” kata Ibas.
Ia menyatakan dukungannya terhadap kerja sama Indonesia dengan GGGI dalam mengembangkan kebijakan dan program pertumbuhan hijau.
Menurut Ibas, kerja sama bilateral dan multilateral diperlukan untuk memperkuat upaya penanganan perubahan iklim serta mendukung pembangunan yang mempertimbangkan kepentingan generasi mendatang.
Kunjungan tersebut turut diikuti sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI, yaitu H. Anton Sukartono Suratto, M.Si. dari Komisi I; Rinto Subekti, S.E., M.M. dari Komisi XIII; Dina Lorenza, S.IP. dari Komisi VII; Dra. Lucy Kurniasari dari Komisi IX; Bramantyo Suwondo, M.MIR. dari Komisi X; Rizki Aulia Rahman Natakusumah dari Komisi I; Wastam, S.E., S.H., M.H. dari Komisi V; H. Muhammad Lokot Nasution, S.T. dari Komisi V; serta Dr. Sartono, S.E., M.M. dari Komisi XII.
Dari pihak GGGI, pertemuan dihadiri Executive Director Sanghyup Kim, Deputy Executive Director and Asia Regional Director Dr. Malle Fofana, Director Partnerships and Governance Hakseok Ryu, Deputy Regional Director Asia Dr. Jason Lee, Country Representative Asia Rowan Fraser, serta Deputy Country Representative Indonesia Vidya Fauzianti.
Pertemuan tersebut membahas peluang penguatan kerja sama di bidang pertumbuhan hijau, transisi energi, pembiayaan iklim, perlindungan lingkungan, serta pengembangan kebijakan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.